Business School UPH Bekali Mahasiswa Dengan Strategi Memperoleh Dana Startup dari Venturra Discovery

Business School UPH Bekali Mahasiswa Dengan Strategi Memperoleh Dana Startup dari Venturra Discovery

Kini tren bisnis startup membuat banyak orang, khususnya mahasiswa, tergiur untuk menuangkan idenya dalam konsep bisnis startup. Namun, ide saja tidak cukup untuk mengembangkan bisnis startup, perlunya dana yang besar menuntut para pebisnis untuk paham akan strategi dalam mencari dana. Secara umum pendanaan dapat diperoleh dari tabungan sendiri dan perusahaan modal ventura, salah satunya melalui Venturra Discovery. Strategi memperoleh dana ini dibahas lebih jauh dalam UPH Spakslabs Speaker Series With Venturra Discovery bertajuk ‘Get Financing and Funding For Startup Company’, yang berlangsung pada 5 Maret 2020, di Kampus UPH Lippo Village.

Venturra Discovery merupakan anak perusahaan dari Venturra Capital di bawah naungan Lippo Group yang memiliki fokus pada pendanaan startup tahap awal (seed funding), hingga pra-seri A di Asia Tenggara. Venturra Discovery ini memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk lebih aktif pada pendanaan startup tahap awal di Indonesia.

“Tips utama bagi mahasiswa yang ingin memulai bisnis startup adalah dengan mencari pengalaman dulu di dunia profesional, karena para investor biasanya lebih tertarik dengan startup yang foundernya sudah memiliki pengalaman di industri tersebut. Jadi, kerja dulu aja sesuai dengan industri yang diminati, memang butuh waktu yang lama, tetapi cara tersebut bisa lebih sustainable,” ujar Kartini Andri Wardani – Senior Associate of Venturra Discovery.

Selain itu, terdapat beberapa strategi lain agar dapat menarik hati para investor untuk memberikan dana pada startup, antara lain prep work: creating a pitch deck, finding your investor, dan presenting pitch deck.

“Langkah awal yang harus dipersiapkan adalah pitch deck yang berisi tentang overview dari business plan tersebut. Terdapat three basic rules untuk membuat konten pitch deck, yaitu harus jelas (clarity), sederhana (simple), dan mudah dibaca untuk dipahami (readability). Setelah pitch deck, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari investor yang sesuai dan relate dengan bisnis. Hal ini bertujuan agar kita tidak menghabiskan waktu kita sendiri dan mereka. Terakhir adalah mempresentasikan pitch deck tersebut kepada para investor. Beberapa hal yang dipresentasikan meliputi problem, solution, target customer, competitor, positioning, dan masih banyak lagi,” jelas Andri.

Tidak hanya itu, kehadiran inkubator bisnis di lingkungan universitas seperti UPH Sparklabs juga diakui Andri dapat mendukung  para mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan bisnis startup mereka.

“Inkubator bisnis di universitas ini sangat menarik, bahkan di luar sana banyak bisnis yang sebelumnya hanya dari inkubator universitas, lalu menjadi sukses. Salah satu contohnya adalah Rollover Reaction. Selain itu, melalui inkubator bisnis ini juga bisa menanamkan mindset mahasiswa menjadi entrepreneur mindset,” ungkapnya.

Andri juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Business School UPH agar jangan terlalu terburu-buru dalam menciptakan bisnis startup, harus memiliki kesabaran, karena kesuksesan tentunya tidak dapat diperoleh dengan mudah. “Dibutuhkannya kerja keras yang didukung dengan skills,” tandasnya.