Legislator: Tetap beroperasi, Pertamina lokomotif ekonomi nasional

Pertamina sebagai BUMN tetap menjadi lokomotif perekonomian nasional. Saya apresiasi, karena mereka tetap melakukan kegiatan operasional, baik di hulu dan hilir, sesuai protokol COVID-19.Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam...

Legislator: Tetap beroperasi, Pertamina lokomotif ekonomi nasional

Pertamina sebagai BUMN tetap menjadi lokomotif perekonomian nasional. Saya apresiasi, karena mereka tetap melakukan kegiatan operasional, baik di hulu dan hilir, sesuai protokol COVID-19.

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam menilai positif Pertamina yang tetap menjaga operasional, baik sektor hulu, kilang dan juga hilir karena bisa menjaga gerakan perekonomian nasional.

"Pertamina sebagai BUMN tetap menjadi lokomotif perekonomian nasional. Saya apresiasi, karena mereka tetap melakukan kegiatan operasional, baik di hulu dan hilir, sesuai protokol COVID-19," katanya di Jakarta, Kamis.

Ridwan menegaskan, anjloknya harga minyak dunia sebenarnya sangat berdampak terhadap sektor hulu Pertamina, harga crude oil sangat jatuh, namun sumur-sumur produksi harus tetap dipertahankan.

Baca juga: Hadapi tiga guncangan, Pertamina EP Asset 4 pertahankan produksi migas

Dikatakannya, meski sisi hulu dalam keadaan merugi dan sisi hilir permintaan merosot tetapi Pertamina tetap berkomitmen menjalankan operasinya. Distribusi dan penyediaan BBM dan LPG untuk masyarakat saat ini berjalan dengan baik.

Operasional Pertamina tersebut, menurut dia memiliki dampak besar terhadap perekonomian nasional, karena tetap membuat banyak pihak tetap berdiri, seperti para kontraktor KKKS dan stakeholder lain.

"Ya, dengan masih beroperasinya hulu sampai hilir Pertamina, ekonomi Indonesia tetap berjalan dan tidak terlalu mudah jatuh. Di sini ada multiplier effect, termasuk kepada perusahaan rekanan yang berarti juga seluruh tenaga kerja di dalamnya," lanjut Ridwan melalui keterangan tertulis.

Menurut Ridwan, masih beroperasinya sektor hulu Pertamina, kilang dan hilir juga menahan terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja, yang tengah marak di tengah menurunnya aktivitas perekonomian.

Berkurangnya risiko PHK, tambahnya, sangat membantu Pemerintah dan juga perekonomian nasional, karena jika ada PHK besar-besaran, sangat berdampak kepada masyarakat dan stabilitas sosial politik.

Sejumlah proyek strategis Pertamina juga masih tetap dijalankan dengan protokol Covid-19, sangat membantu pemerintah dalam hal meningkatkan jumlah serapan tenaga kerja.

Menurut dia, hal itu tidak saja berpengaruh mengurangi tingkat pengangguran tapi sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat sebagai bagian dari faktor penting menggerakkan ekonomi nasional.

Baca juga: YLKI: "Cashback" Pertamina turut edukasi finansial masyarakat

Pengamat ekonomi Universitas Batanghari Jambi Pantun Bukit menilai langkah Pertamina untuk tetap beroperasi, khususnya sektor hulu, memiliki peran sangat besar, meski harus menempuh risiko untuk merugi.

Termasuk di antaranya, ketika Pertamina lebih memilih untuk membeli minyak dari KKKS ketimbang impor seluruhnya.

"Sebenarnya bisa saja Pertamina memilih opsi menutup hulu dan membeli saja semua minyak mentah dari luar negeri agar untung banyak. Tetapi Pertamina tidak memilih opsi itu, sebab jika dilakukan, justru membuat banyak pekerja berbagai sektor ikut terdampak dan kehilangan pekerjaan," katanya.

Dampak lain adalah pertumbuhan ekonomi, menurut Pantun, ini terjadi karena investasi sektor migas sangat besar sehingga memberikan efek domino ke semua sektor.

Baca juga: Komisi VII cecar Kementerian ESDM terkait harga BBM tak turun

Dia menyebutkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2019 tumbuh 2,49 persen, akhir 2019 naik menjadi 5,49 persen dan kuartal pertama tahun 2020, hanya 2,49 persen atau hampir separuhnya turun.

"Ini dalam kondisi sektor migas masih berjalan. Jika migas tergerus, bisa negatif pertumbuhan ekonomi kita. Jika operasional Pertamina berhenti, pertumbuhan akan menurun tajam sampai 30 persen," katanya.

Pewarta: Subagyo
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Let's block ads! (Why?)